AKANKAH 2010 DAPAT KEMBALI ?
Cerita ini dimulai pada sebuah perjumpaan yang tak aku
kira sebelumnya ternyata disana menyimpan sebuah kisah yang baru aku sadari
saat ini.
Dulu pernah datang sekelompok Mahasiswa dari salah satu
perguruan tinggi negeri yang melaksanakan tugas kampusnya “KKN” ditempat
tinggalku mereka akan menetap di desaku selama 1 bulan waktu tersebut telah
ditentukan oleh pihak kampus. Mereka sangat ramah, pandai bersosialisasi, dan menyenangkan.
Kesan mereka tinggal didesa ini cukup baik.. Memang diawal perjumpaan aku tak
begitu memberi respon baik pada mereka karena aku belum tau dan belum terlalu
mengerti bagaimana cara yang tepat untuk segera akrab dengan orang baru,
maklumlah waktu itu aku masih polos dan baru menginjak kelas 1 SMA. Namun warga
yang lain menerima mereka dengan baik di desa kami dan berbagai program mereka
jalankan di desa kami untuk sedikitnya membantu dalam pembangunan desa kami,
alhasil Alhamdulilah menurut mereka desa kami begitu membuat mereka terkagum-kagum
meskipun kami disini hanya menjamu mereka dengan alakadarnya saja.
Sebagai salah satu bukti pengabdian, mereka membuka kegiatan
bimbel untuk para amak-anak disini, ada yang belajar komputer, bahasa inggris, dan
lain-lain. Dengan jumlah anggota 10 orang mereka dengan cekatan membagi
kelompok untuk membimbing kami, setiap hari mereka membagi tugas untuk
membimbing kami. Bukan hanya itu, mereka juga ikut serta dalam kegiatan di DKM kami
dengan antusiasnya mereka dapat sedikitnya memberikan
ilmu mereka untuk kami dalam hal ilmu agama, begitulah sepenggalan rutinitas
mereka selama di desa kami. Selain itu diluar juga masih banyak tugas-tugas
yang mereka kerjakan contohnya gotong royong dalam pembersihan jalan menuju
kebun-kebun tempat warga sekitar menjemput rezeki mereka, mungkin situasi
seperti ini yang membuat para mahasiswa itu benar-benar tergugah untuk membantu
warga.
Setelah beberapa minggu mereka tinggal disini beserta
rutinitasnya, akhirnya sebuah ceritapun lahir diantara para mahasiswa itu.
Sebutlah saja “paketum” .... yaa para mahasiswa yang lain akrab memanggilnya
dengan sebutan itu, karena dia “paketum” adalah ketua didalam kelompok itu.
Singkat cerita paketum menaruh hati pada seorang anak
gadis didesa ini, paketum sering curhat kepada teman-teman sekelompoknya dan
lambat-laun berita itupun sampai kepada pemilik rumah yang ditempati mereka.Akhirnya
berita tentang perasaan paketum itu sampai kepada si perempuan tersebut, namun
ternyata si perempuan tersebut belum bisa menerima kenyataan bahwa dia ( si
perempuan ) selama ini dibuat perhatian oleh paketum, bahkan lebih sadis lagi
si perempuan itu menolak bahwa paketum suka padanya. Hingga tibalah pada suatu
malam paketum datang kerumah si perempuan itu dengan niat untuk bersilaturahmi,
aku saluat pada paketum, dia benar-benar berani datang sendiri tanpa
teman-temannya. Malam itu dengan alasan ingin nonton bola di televisi paketum rela
berangkat sendiri menjumpai perempuan itu dan keluarganya. Padahal siapa yang
sangka dalam hatinya pasti penuh dengan kebimbangan, namun kembali pada niat
awal untuk bersilaturahmi dia yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Tibalah si
perempuan menyuguhkan secangkir kopi untuk paketum, walau awalnya si perempuan
menolak untuk menyuguhkan kopi tersebut tapi sang ibu tetap menyuruh si
perempuan itu untuk menjamu tamunya itu. Dengan perasaan yang sedikit jengkel
akhirnya sang perempuan pun menyuguhkan secangkir kopi tersebut “silakan
diminum pak kopinya, maaf tidak ada yang istimewa disini” tegur si perempuan
dengan senyuman sipu malunya.... “oh terimakasih, ini sudah lebih dari cukup”
balas paketum.Perbincangan dimulai antara ayah si perempuan dengan paketum, tak
tahulah apa yang mereka bahas tapi yang jelas si perempuan malah asik berdiam
diri dikamarnya, yaa... itulah awal dari kebodohan si perempuan.
07-12-2014